|     N e w s     |     The Batik     |     F A Q     |
Teras Toko online
  Cari Batik      
  Masukkan Kode Batik :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Testimoni
9 comments terbaru


Nama :
Email :
Comments :
5 digit nomor di atas :



Arsip Berita





















































Batik Warisan Yang Hidup


Sejumlah seniman batik asal Eropa, terutama Jerman ikut ambil bagian memamerkan hasil karya atau koleksinya pada gelaran Pameran Batik Indonesia ‘Warisan Yang Hidup’ yang digelar di Kota Solo.

Pameran Batik yang digelar di Pendapi Gedhe Balaikota Solo mulai 20-29 Februari 2012 tersebut terselenggara melalui organisasi persahabatan antara Jerman – Indonesia ataua Jerin, atas kerjasama Kedutaan Jerman, Goethe-Institute dan Ekonid (Kamar Dagang Indonesia – Jerman).

Jerman-Indonesia (Jerin), adalah organisasi yang bertujuan merekatkan masyarakat Jerman dan Indonesia dengan melakukan kerjasama dalam bidang kebudayaan, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Jerin Project Officer Tuti Pratiwi mengatakan beberapa seniman asal Eropa, terutama Jerman yang turut memamerkan karya seninya di bidang batik itu antara lain Rudolf G Smend, Annnegrt Haake, Joachim Blank, Peter Wenger, Rita Trefois, Brigitte Willach, dan Freitz Donart.

“Para kurator dan seniman batik asal Eropa ini sangat conern terhadap perkembangan batik dan mereka sangat mengapresiasi batik sebagai sebuah karya seni tradisional luhur warisan dunia yang hidup sampai saat ini,” ujarnya.

Menurutnya, dalam menciptakan hasil karyanya itu, mereka menempuh perjalanan penelitian mendalam ke Indonesia untuk mempelajari teknik pembuatan batik. Kemudian, selain hasil karya seniman batik Eropa itu, lanjutnya juga turut dipamerkan buatan seorang perintis batik modern Indonesia, Iwan Tirta.

Menurutnya acara yang digelar dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan bilateral Jerman – Indonesia, serta HUT Kota Solo ke-267 ini dimaksudkan sebagai wadah edukasi bagi masyarakat tentang betapa sangat berharganya batik.

“Batik sebagai warisan budaya dunia bukan sekedar selembar kain bermotif, namun lebih dari itu banyak terkandung makna dibalik pembuatannya,” ujarnya.

Selain itu, Jerin melalui program Clean Batik Iniciative atau Inisiasi Batik Bersih yakni program yang bertujuan mengurangi dampak negative terhadap lingkungan yang disebabkan oleh produksi batik, sekaligus memaksimlakan keuntungan UKM, serta meningkatkan kondisi kerja dan keselamatan pekerja produksi batik.

“Saat ini telah berhasil menyelesaikan pelatihan di Jateng dan telah mendukung 300 SME (Small Medium Enterprise) atau pelaku usaha mikro kecil dan menengah.

Pameran tersebut secara resmi dibuka oleh Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Republik Federal Jerman Indonesia, Mrs. Tempel bersama Sekretaris Daerah Kota Solo, Budi Suharto dengsan melakukan pengguntingan untaian melati.

Para seniman Jerman yang terlibat dalam pameran ini, jelas Mrs Temple, Deputy Head of Mission Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman, umumnya memang memiliki sejarah yang unik dengan dunia batik di Indonesia. Mereka telah menempuh perjalanan penelitian mendalam ke Indonesia, tambahnya, saat pembukaan pameran, Senin (20/2), untuk mempelajari teknik pembuatan batik, lalu mengaplikasikannya dalam karya sesuai daya kreativitas masing-masing. Itu semua, sebagai bentuk penghargaan terhadap salah satu karya seni yang paling mempesona di Indonesia.

Tak dipungkiri, sejak ditetapkan menjadi warisan dunia, batik mendapat tempat khusus di dunia pertekstilan, bukan saja dalam lingkup Indonesia, tetapi juga dunia. Rasanya tak ada produk tekstil di belahan bumi manapun yang sangat kaya dengan simbol dan makna, selain pula berpenampilan eksotik. Filsafat Di sisi lain, Martin Krummeck, Ketua Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (Ekonid) yang ikut membidani pameran batik ini, menyebutkan, filsafat warna, motif, proses pembuatan hingga cara pemakaian, sungguh mencerminkan sebuah keindahan tradisi tiada tara. Karenanya, dia berharap batik bisa menggerakkan bangsa Indonesia bagi pembangunan berkelanjutan.

Sejak dua tahun silam, Ekonid bersama Jerin telah melakukan pendampingan terhadap ratusan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bidang batik di Indonesia dengan teknologi tepat guna dalam proses pembuatan batik. Teknologi yang diterapkan, meliputi penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan serta hemat, rekayasa pencelupan warna dan pelarutan malam, hingga limbah bisa didaur ulang untuk produksi ulang, dan sebagainya.

Penerapan teknologi seperti itu, bukan saja berandil besar dalam upaya menciptakan langit biru, tetapi juga secara ekonomis sangat menguntungkan perajin, karena biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin. Bahkan, untuk penerangan tempat produksi pun menggunakan teknologi sederhana dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penerangan lewat lampu botol bekas.



Belum ada Komentar, Isi komentar :
Nama
Email
Comment
Kode captcha
 
 
 
Supported by
 

Copy Right : BATIK PARASANTIQUE PEKALONGAN © 2013
Jl. Molek Baru no. 9
Villa Binagriya Pekalongan
HP: 0811520811
PIN: 286B7E9A atau 5E99464D
email: parasantique@gmail.com

rss feed rss feed rss feed         rss feed

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

My Zimbio parasantique.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor
Check PageRank


2017-11-22 10:32:35 freewebsubmission Markup Validator Parasantique Wikimapia Direktori Web Online - Kirim Submit Url Parasantique on IndonesiaYP