|     N e w s     |     The Batik     |     F A Q     |
Teras Toko online
  Cari Batik      
  Masukkan Kode Batik :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Testimoni
9 comments terbaru


Nama :
Email :
Comments :
5 digit nomor di atas :



Arsip Berita





















































Perajin Batik Terancam Bangkrut


PEKALONGAN (Suara Karya): Usaha kecil dan menengah (UKM) serta perajin batik di Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng), terancam gulung tikar sebagai dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Pekalongan Anis Sungkar mengatakan, kenaikan TDL hingga 18 persen akan menimbulkan pengaruh besar terhadap kondisi industri batik.

"Kenaikan TDL akan berpengaruh terhadap naiknya harga bahan baku produksi batik, seperti benang dan kain. Sedangkan kondisi pasar produk kerajinan batik masih lesu. Dengan kondisi ini, kenaikan TDL menjadi ancaman bagi UKM batik," katanya di Pekalongan kemarin.

Pada awalnya, menurut dia, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) cukup pintar menetapkan asumsi kenaikan TDL terhadap pelaku industri dan masyarakat dengan merumuskan kenaikan hingga 40 persen. Bahkan ada yang bisa mencapai 80 persen. Namun, ketika mendapatkan protes dari pelaku industri, PLN kemudian menurunkan kenaikan TDL menjadi maksimal 18 persen, seperti tujuan dari awal.

"Semestinya PLN jangan melakukan cara seperti itu (membohongi masyarakat dan pengusaha). Jika memang mau menaikkan TDL, ajukan sesuai angka yang logis kepada pemerintah," ujarnya.

Dia menilai, posisi logis kenaikan TDL seharusnya maksimum 10 persen. Ini karena harga barang produk tekstil seperti batik dan pakaian jadi hanya naik 15 persen.

"Kenaikan harga kerajinan batik sebesar 15 persen itu karena menjelang Lebaran. Jujur saja, dengan adanya perjanjian pasar bebas, juga cukup menyulitkan pelaku industri bersaing dengan produk asal China," katanya.

Kondisi sulit yang dihadapi industri kerajinan batik Pekalongan ini, menurutnya, diperkirakan mulai terlihat pada enam bulan ke depan. Akibat kenaikan TDL ini, diperkirakan pelaku industri batik di Pekalongan akan melakukan pengurangan jumlah tenaga kerja atau PHK.

"Karena itu, kami berharap kebijakan pemerintah harus lebih memperhatikan masa depan UKM, bukan sebaliknya," tuturnya.

(suarakarya)



2 comments
Bowo
Kelihatannya kenaikan harga TDL hanyalah alasan PLN untuk mencari-cari keuntungan.

Tengok saja saat telepon masih dimonopoli telkom. mereka selalu saja mengusulkan kenaikan tarif.
Tetapi saat iklim monopoli dihilangkan dan muncul berbagai operator telekomunikasi, yang terjadi malah biaya telepon jauh lebih murah, dan tidak ada lagi issu kenaikan tarif telepon.

Nah..
Sebaiknya pemerintah harus segera menghentikan monopoli listrik oleh PLN. Biarkan banyak perusahaan yang bermain di listrik, sehingga persaingan jasa listrik akan semakin dinamis, dan ujung-ujungnya para pengrajin batik termasuk saya ini bisa terus survive dan menghidupi karyawan..
Ghofur
Setuju dengan mas Bowo..
Pengrajin batik yang merupakan kehidupan ekonomi berbasis kerakyatan, sudah sepantasnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.
karena disadari atau tidak bisnis batik telah menyerap ribuan tenaga kerja.
Nama
Email
Comment
Kode captcha
 
 
 
Supported by
 

Copy Right : BATIK PARASANTIQUE PEKALONGAN © 2013
Jl. Molek Baru no. 9
Villa Binagriya Pekalongan
HP: 0811520811
PIN: 286B7E9A atau 5E99464D
email: parasantique@gmail.com

rss feed rss feed rss feed         rss feed

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

My Zimbio

Check PageRank


2017-12-13 22:06:33 freewebsubmission Markup Validator Parasantique Wikimapia Direktori Web Online - Kirim Submit Url Parasantique on IndonesiaYP