|     N e w s     |     The Batik     |     F A Q     |
Teras Toko online
  Cari Batik      
  Masukkan Kode Batik :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Testimoni
9 comments terbaru


Nama :
Email :
Comments :
5 digit nomor di atas :



Arsip Batik





















































Kain Motif Batik


Kain Motif Batik paling banyak digemari oleh kaum hawa, karena terdapat berbagai macam pilihan motif, bahan, maupun teknik batik yang digunakan. Kaum hawa sangat menyukainya karena mereka bisa membuat model pakaian sesuai dengan desain yang dikehendaki sendiri-sendiri.

Hasil kain batik pasti berbeda untuk setiap teknik pembatikan yang digunakan. Kain batik cap, batik tulis, batik printing pastilah beda untuk motif dan hasil akhirnya. Bahan mori kain yang digunakanpun juga bisa berbeda, mori kain paris bahannya lebih jatuh dibandingkan dengan mori kain katun. Mori kain doby mempunyai tekstur benang yang jelas terlihat dan bermotif. Mori kain silky mempunyai campuran serat benang polyester dalam struktur benangnya, sehingga menjadikan kain silky lebih mengkilap.

Teknik pewarnaan batik juga akan sangat menentukan hasil akhir dari suatu proses pembatikan kain batik. Teknik pewarnaan gradasi akan menghasilkan kain batik dengan perpaduan warna-warni pelangi. Proses pewarnaan dengan teknik cabut warna akan menghasilkan kain batik dengan warna-warna soft yang lembut. Proses pewarnaan dengan teknik celup akan menghasilkan kain batik dengan warna-warna yang tegas.

Semua pilihan kain batik sangat tergantung dari model busanan yang akan dibuat dan suasana acara yang akan diikuti oleh pengguna batik. Batik untuk pesta, acara resmi, ataupun suasana santai tentunya dibutuhkan kain batik dan model pakaian yang berbeda.



5 comments
nanang
mb/mas kalau pesan batik langsung kerumah bisa gak??
Admin
@nanang: kami sangat senang sekali bila dikunjungi..
Roro Fitri
request : khusus unt resell yg order kurang dr satu kodi, mhn diberikan juga discount dong mb / mas ^_^
Admin
@Roro Fitri: bisa aja mbak, nanti diskonnya dihitung manual.
Suaramerdeka
”KOTA Batik di Pekalongan, bukan Jogja eh bukan Solo. ” Syair pembuka lagu ”Sosial Betawi Yoi” yang dinyanyikan Slank itu tentulah bukan bermaksud meniadakan Yogya atau Solo sebagai ikon batik.

Namun, kini, posisi Pekalongan dalam perdagangan batik di Tanah Air memang mempunyai berbeda dari dua kota itu. Brand batik di Pekalongan yang lebih dinamis, berwarna, dan variatif telah ”menyingkirkan” keangkeran, formalisme, dan kesan tua yang selama ini dibawa batik dari Keraton Solo dan Yogyakarta.

Perbicangan soal batik, bahkan kegiatan batik tingkat nasional pun, akhir-akhir ini lebih sering dialamatkan ke Pekalongan. Dari festival batik internasional yang rutin setiap tahun hingga pencanangan Hari Batik Nasional oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono tahun lalu juga diselenggarakan di Pekakongan. Kota Pekalonganpun pun tak lagi sungkan menyematkan sesanti ”Pekalongan the World of Batik City”.

Dan, Kabupaten Pekalongan melengkapi dengan membangun International Batik Center (IBC) sebagai pusat perdagangan batik dunia.

”Di Solo dan Yogyakarta, batik tak bisa dilepaskan dari strata soSial. Ada busana khusus yang hanya boleh dipakai bangsawan keraton untuk acara tertentu. Budaya seperti itu tak dikenal di Pekalongan,” ujar H Failasuf, pemilik Batik Pesisir Pekalongan.

Dia menuturkan Pekalongan pada masa Kerajaan Mataram adalah daerah pinggiran dan jauh dari pusat keraton. Letak Pekalongan di pesisiran membentuk masyarakatnya mempunyai semangat egaliter (kesetaraan) dan terbuka. Kesetaraan itulah yang memengaruhi berbagai hasil kebudayaan, termasuk batik. ”Batik di Pekalongan bukanlah simbol status, karena hampir semua orang pakai batik,” ujarnya.

Karena itulah, ujar Failasuf, sangat sulit mencari motif asli Pekalongan karena motif batik tidak statis dan bertahan lama. Namun ada tiga pengaruh budaya yang, menurut pendapat dia, dominan digunakan dalam motif batik di Pekalongan selama ini.

Itulah motif boketan Cina yang diwakili batik Oey Soe Tjoen, motif dari Belanda yang diwakili batik Van Zuylen, dan motif dari Jepang.

Kedinamisan budaya batik berlangsung hingga saat ini. ”Mungkin ada ribuan motif yang dihasilkan perajin batik di Pekalongan. Namun sulit menyebut mana yang khas dari Pekalongan,” tutur Ketua Kadin Kabupaten Pekalongan itu.

Saat ini simbol daerah nyaris lebur dan digantikan dengan personalitas. ”Jadi kelak yang berkembang bukanlah batik Pekalongan, melainkan batik personal dari para perajin,” katanya.

Ketiadaan simbol kedaerahan itulah, ujar dia, justru yang menjadi kelebihan Pekalongan dibandingkan dengan ikon batik lain seperti Solo dan Yogyakarta. Kreativitas menjadi lebih cepat mengalir dan jumlah pembatik pun menjadi lebih banyak karena kebebasan berkreasi dan menjual motif apa pun.

Rasjoyo, budayawan asal Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, menuturkan pengaruh dari Cina, Jepang, atau Belanda juga terjadi di daerah lain. ”Itu kan fenomena migrasi bangsa Cina, Belanda, dan Jepang waktu itu yang terjadi juga di daerah lain,” ujar mantan anggota DPRD yang pernah menulis beberapa buku tentang batik itu.

Cara masyarakat Pekalongan yang tidak berorientasi ke budaya dalam menerima pengaruh dari luar adalah pembentuk utama budaya Pekalongan yang egaliter. ”Masyarakat Pekalongan menjadikan batik bukan sebagai warisan budaya seperti Solo atau Yogyakarta, melainkan sebagai sumber ekonomi,” tutur dia.

Sangat Terbuka

Itulah yang membuat pembatik di Pekalongan lebih menatap ke depan daripada ke belakang. Sikap itulah yang membuat batik berkembang pesat, baik dari sisi motif maupun teknis.

Dia menuturkan teknik goresan batik yang dikenal colet, yakni menggoreskan langsung warna batik dengan benda semacam kuas diyakini sebagian besar pembatik berasal dari Pekalongan. ”Di daerah lain mungkin ada, tetapi tidak banyak seperti di Pekalongan.”

Prinsip menjadikan budaya sebagai inspirasi dan bukan orientasi, kata Rasjoyo, mendorong perkembangan kreativitas menjadi seperti sekarang ini. ”Banyak batik dengan merek daerah lain, namun dibuat di Pekalongan.”

Perajin batik di Pekalongan sangat terbuka. Apa pun yang bisa diserap pasar akan mereka buat. Tak ada keaslian pakem atau aturan atau budaya daerah yang harus dijaga. ”Apa pun yang bisa diserap

pasar akan dibuat. Saya rasa, itu yang akan berkembang kelak,” katanya.

Desainer muda, Zikin, menyatakan batik di Pekalongan berkembang tidak mengikuti pakem seperti di Solo dan Yogya. Justru itulah, batik di pesisir tersebut lebih bisa berkembang pesat mengikuti pasar. ”Mana motif batik yang diminati masyarakat, masyarakat Pekalongan akan memproduksi secara besar-besaran,” katanya.

Karena itu batik di Pekalongan tak memiliki aturan bagaimana motif tertentu digunakan. Yang mengemuka adalah selera pasar. Karena itu, jangan heran pula jika Pekalongan mampu memproduksi berbagai batik di seluruh Indonesia. Sebab, sekarang Pekalongan juga memproduksi batik Papua, Kalimantan, dan lain-lain sesuai dengan pesanan. Bahkan batik bermotif yang disenangai luar negeri pun diproduksi di Pekalongan.

”Kita tahu, desain motif batik sudah banyak muncul dari Pekalongan. Jadi batik di Pekalongan bersaing ketat dengan daerah lain,” katanya.

Sony Hikmalul MSi, Direktur Politeknik Batik Pusmanu, mengemukakan warna batik di Pekalongan ngejreng karena ada pengaruh dari Cina. Pengaruh itu bukan hanya di Pekalongan, melainkan juga di daerah pesisir lain seperti Cirebon dan Lasem. Karena itu, batik di Pekalongan cenderung berwarna-warni dan tak mengikuti batik dari Keraton Solo atau Yogya yang menonjol pada warna sogan.

Sang staf, Dini Hasan, menambahkan karakter motif batik di Pekalongan adalah boketan yang berisi gambaran flora dan fauna. Namun boketan bukan semata-mata pengaruh dari Cina, melainkan banyak dikeluarkan pembatik Pekalongan.

Karena itu, lihat saja batik boketan hanya berupa gambaran hewan atau tumbuhan di sekitar Pekalongan. Dulu, tak ada motif bergambar gajah atau hewan lain yang tidak ada di Pekalongan.

Motif lain yang cukup dikenal saat ini, kata Sony, adalah jlamprang yang lebih banyak dipengaruhi India. Perkembangan motif dari Pekalongan itu hingga kini berjalan begitu cepat sehingga tidak aneh sudah ribuan diciptakan dari daerah pesisir tersebut. Sayang, tak diketahui siapa pencipta berbagai motif itu.
Nama
Email
Comment
Kode captcha
 
 
 
Supported by
 

Copy Right : BATIK PARASANTIQUE PEKALONGAN © 2013
Jl. Molek Baru no. 9
Villa Binagriya Pekalongan
HP: 0811520811
PIN: 286B7E9A atau 5E99464D
email: parasantique@gmail.com

rss feed rss feed rss feed         rss feed

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

My Zimbio
Check PageRank


2017-11-24 14:20:14 freewebsubmission Markup Validator Parasantique Wikimapia Direktori Web Online - Kirim Submit Url Parasantique on IndonesiaYP